Prolog
~ Jangan pernah berusaha melupakan rasa
sakit. Justru kamu harus mengingatnya, agar kamu bosan dengan rasa sakit itu.
Sampai akhirnya kamu terbiasa. ~
Aku sudah membuktikan kata-kata itu. Rasa sakit yang
pernah aku rasakan, kini sudah merasa bosan denganku, aku pun merasa biasa
saja.Cinta bukan hanya membutakan mata dan hati, tapi cinta juga membodohkan
logika dan hati. Cinta itu bodoh. Terkadang seseorang yang selalu membuat kita
tertawa tidak bisa membuat kita jatuh cinta, justru orang yang paling sering
membuat luka malah membuat kita jatuh cinta. Lucu kan? Aku ingin menertawai
diriku sendiri, tapi aku juga ingin menangis.
“Uuyy… Kamu tuh ya! Di line kamu tuh udah kayak asrama
putra, kenapa kamu nggak ngajakin salah satu diantara mereka buat nemenin kamu
makan. Kenapa harus aku..” Aku mengenal suara yang lagi ngomel-ngomel dari
kejauhan. Seketika senyumku mengembang.
“Duduk gih.” Suruhku begitu dia sampai di depanku. Aku
nggak peduli dia mau ngomel-ngomel kayak apa, yang jelas sekesel-keselnya dia
sama aku, dia nggak bakal nolak tiap kali aku minta ditemenin entah itu makan
atau pun main.
“Eh betewe, gimana?
Udah bisa ngelupain Adam?” celetuknya kepo.
“Ngapain harus dilupain sih..” tangkisku sambil menyeruput
segelas lemon tea yang sudah ku pesan.
“Loh? Bukannya mau move on?”
“Move on kan –rasa-nya yang dilupain, orangnya mah
jangan.”
“Bener juga kamu.”
“Pesenan kamu dateng tuh.” Ucapku begitu melihat pesanan
Mbak Riani datang. Sebelum cerita ini berlanjut, aku kenalin dulu siapa Mbak
Riani. Wanita yang ada di hadapanku sekarang adalah sosok sahabat yang dipertemukan
di suatu kepanitiaan. Selama kepanitiaan acara di kampus, dia jadi patner
terbaik menurutku, dan sekarang dia menjadi tempat curhat terbaik menurutku
juga. Alasan kenapa aku manggil dia dengan sebutan ‘mbak’ karena umurnya lebih
tua dariku. Yap! Dia kakak tingkat.
“Hape-mu getar terus tuh.” Ucapnya sambil melirik
handphone-ku yang bergetar beberapa kali.
“Udah biarin aja.” Aku cuek dan terus menyantap
makananku.
“Coba ku lihat.” Mbak Riani menaruh sendoknya lalu
meraih handphoneku yang tergeletak tak begitu jauh dari gapaiannya. “Ada yang
chat nih. -Halo Raline, kamu lagi apa?- dari Andre. -Kok ngga bales chatku
sih?- dari Rizki. -Malem dek- dari Dekas. -Kak, follback Instagram aku dong-
dari Richi. Truss...”
“Ehh itu si Richi di follback dulu.” Mintaku.
“Oke.” Jawabnya. “Ini chat-chatnya sekalian aku
balesin juga nggak?”
“Gak usah, biar aku sendiri aja.” Aku tahu pasti dia
bakalan bales macem-macem yang nggak sesuai sama ekspetasiku.
“Kenapa sih nggak pilih salah satu diantara mereka?”
tanyanya sambil meletakkan handphone-ku di tempat semula.
“Lagi nggak ada gairah buat mikirin begituan.”
“Jangan pernah trauma jatuh cinta.”
“Apaan sih… aku bukan tipe cewek lemah yang mudah
trauma sama sesuatu. Aku cuma belum siap aja ngerasain sakit lagi. Baru juga
beberapa hari sembuh kan.”
“Tapi tapi… lagi deket sama Angga kan?” mulai deh jiwa
melebihi wartawan infotainment muncul.
“Nggak juga. Cuma temen main. Kayak aku sama kamu
gini.” Jawabku.
Mendengar pernyataanku, mbak Riani hanya mengangguk-anggukan
kepalanya lalu kami kembali melahap makanan.
Lega rasanya ketika aku sudah tidak menunggu balasan
chatnya, ketika aku sudah tidak menyimpan foto-fotonya di handphone-ku, ketika
aku merasa biasa saja tanpa kehadiran Adam. Iya benar. Semakin kita berusaha
melupakan seseorang, justru kita akan semakin sulit melupakan orang itu. Bukan
orangnya yang dilupakan, tapi –rasanya- yang dilupakan. Toh aku masih bisa
berteman dengan Adam, kapanpun aku mau menemui dia, dia bilang bisa menemuiku.
Move on bukan harus men-block semua akun sosial medianya, bukan tidak menemui
dia lagi, bukan tidak menyapanya lagi, bukan tidak berteman dengannya lagi. Tapi
move on yang sesungguhnya adalah bagaimana hatimu dan hatinya berdamai dengan
masa lalu kalian.
To be continue...
Yuhuuuu... lama banget nggak ngeblog. Aku udah vacum beberapa bulan dari dunia perbloggeran. Ini mah bukan beberapa bulan lagi, tapi setengah tahun lebih -,-
Kali ini aku bakalan bersihin blog aku yang lumutan ini dengan post cerita-cerita terbaruku. Selama SATU SETENGAH TAHUN LEBIH ini pasti banyak kejadian yang bisa ku buat untuk menulis cerbung yang aku post diatas. Cerita di atas beberapa ada yang nyata dan ada yang fiksi. Kalau nama emang aku samarin semua.
- Kenapa pake nama Raline? Soalnya aku ngefans sama Raline Shah. Tau kan?
- Kenapa pake nama Riani? Karena Raline Shah berperan sebagai Riani di film 5 cm.
- Nama-nama diatas ada yang asli enggak? Nama-nama itu aku ambil dari nama temen-temenku yang nyata tapi aku samarkan. Misalnya nih, tokoh yang aku ceritain nama sebenernya adalah A, tapi namanya ku ganti sama temenku yang punya nama B. Jadi si A ini namanya jadi B. (Duhh pusing)
Owkay dehhh... semoga kalian suka sama postingan cerita terbaruku. Dan nantikan episode ke-2 nya... hehehe
Tidak ada komentar:
Posting Komentar